Hari Jumat, 6 Juni 2008, masih dari kota Padang, Sumatra Barat, saya dan rekan-rekan masih ada disini dalam rangka dinas kantor.
Hari-hari yang melelahkan dan dipenuhi dengan rutinitas kerjaan, akhirnya sedikit dilonggarkan situasinya setelah kami berkesempatan untuk keliling kota Padang.
Berangkat dari kantor, sekalian pulang ke hotel, maka kami mencari tempat makan, dengan diantar oleh rekan kantor cabang, kami dihantari ke salah satu daerah yang menjadi wisata kuliner, tepatnya di Jalan Tepi, Padang Pondok.
Setelah memarkir mobil, kami pun turun dan kami menemui suasana yang sangat ramai...semua jenis makanan khas Minang tersaji di kiri kanan jalan....dari mulai Sate Ayam Minang, Sate Padang, Es Durian sampai dengan Soto Minang, kalo di Jakarta lebih dikenal dengan Soto Padang...karena dari beberapa hari lalu kami belum pernah makan yang berkuah maka kami memutuskan untuk melahap Soto Minang...alhamdulillah dengan harga 10.000 rupiah saja semangkoknya maka kami semua bisa melahap Soto Minang...onde mande, Soto yang dihidangkan panas-panas sangat memicu rasa lapar kami berubah menjadi rasa kenyang dengan kepuasan yang terkata-kata...heemmmm...
Setelah ngobrol-ngobrol sejenak maka kami memutuskan untuk keliling, masih berjalan kaki di kawasan Padang Pondok, kami ingin mencari es Durian yang memang terkenal uenak...hehehe...setelah berjalan ke arah perempatan Jln. Tepi Atas, Padang Pondok, kami mampir ke warung yang menjual es durian...hemm...ternyata di jalan tersebut memang khusus warung yang jualan es durian...setelah memilih-milih kita memutuskan untuk mencoba es durian di warung yang bernama "IKO GANTINYO"...kami pun duduk dan memesan es durian, semua memesan supaya porsi yang setengah saja karena kami masih kekenyangan Soto Minang...
Setelah menunggu tidak lebih dari 5 menit, es durian pesanan kami datang dan segera saja semangkok seharga delapan ribu perak tersebut yang berisi durian yang di-blender dihiasi agar-agar hitam, kelapa parutan, susu coklat sedikit dan pastinya es yang diserut...kami pun melahap es durian tersebut...hemmm....rasa durian yang sangat menyengat memicu kami untuk segera menghabiskan es durian kami...mak nyuuss, demikian ungkapan mas Bondan pada acara kuliner di TV, mungkin bisa mewakili perasaan kami saat itu...
Tak terasa, kami pun kekenyangan dan setelah mengobrol sejenak kami pun kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan keliling kota Padang, kami melalui daerah Kota Tua Padang, di daerah Muara tepatnya, kawasannya sangat mirip dengan Kota Tua Jakarta dimana banyak sekali gedung-gedung tua eks jaman penjajahan Belanda yang masih berdiri megah, sayang Pemerintah Daerah Sumatra Barat rupanya belum terpikir untuk merenovasi gedung-gedung tersebut dan menyulap dearah Muara tersebut menjadi obyek wisata kota tua Padang....apalagi di kiri jalan yang kami lalui membentang sungai Muara yang cukup lebar dimana terdapat kapal-kapal boat berukuran sedang, yang sepertinya bakal menjadi obyek wisata air jika benar-benar kawasan tersebut benar-benar dibangun menjadi daerah wisata...
Setelah melalui sungai Muara tersebut, kami sampai di jalan Boulevard pinggir pantai Padang, ehmmm...lagi-lagi kondisi kawasan pinggir pantai yang belum dikelola secara profesional malah lebih menunjukkan kesan kumuh, apalagi banyak terdapat lapak-lapak yang menjual jagung rebus...oh ya sebelum sampai di Boulevard, kita melewati pinggiran sungai Muara dimana banyak pedagang yang menjual telur penyu...banyak banget yang jualan, dengan harga dua ribu per butir...hemm murah atau mahal ya? trus ngomong-ngomong berapa banyak penyu yang ga jadi lahir ya kalo telurnya dijualin buat dimakan manusia...??? hehehe...
tak terasa, perjalanan kami pun sudah mengarah ke hotel kami menginap, Pangeran Beach...akhirnya kami pun sampai di hotel dan siap beristirahat dengan kepuasan yang tidak terkalimatkan....
.....Ranah Minang, Ranah Kuliner....
Saturday, June 07, 2008
Sunday, June 01, 2008
Padang-Bukittinggi-Padang
gw yang masih di Padang, Sumatera Barat dalam rangka dinas kantor, berkesempatan memanfaatkan waktu luang di hari Minggu, 1 Juni 2008 untuk pergi ke Bukittinggi bersama teman-teman kantor yang menjadi satu team dinas gw. Gw, Oky, Carol dan Agam rekan dari MT ACC serta Tio dari Underwriting sudah bersiap-siap ke Bukittinggi dari malam sebelumnya dengan menyepakati keberangkatan kami ini dan disepakati untuk memakai style rekan-rekan backpackers dengan "mengeteng" angkutan umum atau travel menuju ke Bukittinggi, padahal kami sempat ditawari oleh teman kantor di Padang untuk menggunakan mobil operasional kantor namun kami menolak karena perjalanan ke Bukittinggi ini adalah diluar dinas kantor.
Minggu, 1 Juni 2008 pukul 10.00wib kita pun siap berangkat, meski molor dari rencana semula jam 8 pagi kita harus sudah berangkat, namun tidak mengurangi antusias gw dan rekan-rekan untuk bergerak. Diawali dengan mengambil uang di ATM BII dan BNI yang ada di hotel Pangeran Beach tempat kami menginap, kemudian Carol bertanya ke security hotel menanyakan alamat travel Tranex Mandiri yang memiliki rute Padang-Bukittinggi. Didapatlah jawaban bahwa kami harus naik angkot dulu sekali ke arah Minang Plaza. Kemudian kami pun menunggu angkot yang lewat depan hotel dan akhirnya datang angkot tersebut. Di perjalanan selama di angkot, rekan dari supir angkot pun bertanya kami akan kemana, lalu kami menjawab akan ke Bukittinggi. Rekan dari supir angkot tersebut memberitahu sebaiknya naik travel plat nomor hitam saja supaya lebih cepat dan tidak menunggu penumpang penuh dulu baru berangkat, mobilnya pun minibus dan biasanya bagus-bagus. Cukup membayar sedikit lebih mahal dari travel resmi namun secara waktu lebih cepat. Akhirnya kami diantar ke depan Minang Plaza tempat travel plat nomor hitam biasa mangkal.
Sesampainya di Minang Plaza kami pun ditawari tujuan ke Bukittinggi. Untuk membedakan mobil travel dengan merk Toyota Kijang dengan Kijang mobil pribadi adalah mobil travel memilik ciri-ciri adalah pintu bagasi belakang dibuka pada saat parkir. Kemudian kami menanyakan kepada uda-uda yang ada disitu berapa ongkos ke Bukittinggi dan mendapat jawaban seharga Rp. 20.000,- (ga terlalu mahal juga yaaa dibanding travel resmi yang Rp. 15.000,-). Akhirnya kami sepakat untuk memilih mobil Kijang warna merah maroon. Namun karena tidak langsung jalan karena mobil belum penuh (kami hanya berlima sedangkan mobil masih bisa memuat 2 orang lagi) akhirnya kami meminta agar mobil dapat langsung berangkat, mengingat waktu yang semakin siang, waktu itu hampir jam 11 siang, dan akan menambah ongkos 10.000 per kepala dengan syarat mobil langsung berangkat. Dan uda yang menjadi timer disitu pun setuju, akhirnya kami pun berangkat tepat jam 11.00wib dari seberang Minang Plaza.
Perjalanan yang kami tempuh melalui daerah-daerah yang sempat gw catat adalah dimulai dari kota Padang lalu menuju ke arah Bandara Minangkabau selanjutnya kami melewati daerah Batang Anai, kemudian Lubuk Alung. Memasuki wilayah Enam Lingkung kami disambut dengan hujan lokal yang gerimis saja...namun hawa masih sangat panas siang itu.
Kijang yang dikendarai si Uda melaju dengan kecepatan yang menurut gw cukup kencang. Lari dengan kecepatan sekitar 90-100 km/jam menurut gw sudah sangat kencang untuk kondisi mobil dengan berpenumpang total 6 orang. Berkali-kali kami selalu mengingatkan ke di Uda supir untuk santai saja dalam berkendara, namanya juga jalan-jalan....
Tak terasa kami pun sampai di persimpangan yang ke arah Pariaman, namun kami ambil lurus terus menuju wilayah Sicincin, disini hujan sudah tidak ada lagi, kembali hawa panas menyerang, mobil yang memang dari awal tidak dinyalakan AC nya menambah lagi kepanasan yang kami rasakan. Lewat dari Sicincin kami memasuki daerah Kayutanam dan akhirnya masuk ke lembah Gunung Singgalang, mulai disini hawa mulai sejuk dan pemandangan sudah terlihat menghijau dengan bentaran Gunung Singgalang di depan kami...jalan berkelak kelok pun kami lewati dengan nyaman...dan tibalah akhirnya kami melewati air terjun Lembah Anai, sempat terpikir berhenti dulu untuk foto-foto namun karena waktu sudah siang dan berharap tiba di Bukittinggi pas makan siang dan pas waktunya untuk sholat Dzhuhur.
Setelah melewati Lembah Anai kami pun masuk wilayah Lumpukuda, dan beberapa lama kemudian akhirnya kami memasuki kota Padang Panjang, sempat terhambat beberapa saat karena situasi kota Padang Panjang yang ramai dan banyaknya angkot yang mengetem sembarangan pas di lampu merah sehingga menambah kemacetan makin parah. Namun dengan situasi tersebut kami tetap santai saja karena memang dalam rangka jalan-jalan...dalam perjalanan beberapa rekan kami pun tertidur karena hawa sejuk yang merasuki seisi ruangan mobil kami...
Setelah melewati Padang Panjang kami memasuki daerah X Koto (bacanya apa ya Kali Koto?) Kabupaten Tanah Datar dan menemui jalan yang rusak dan berlobang serta sisa-sisa longsor beberapa hari lalu dari bukit yang masih ada di sisi kiri dan kanan jalan yang kami lalui....mobil yang kami tumpangi pun berjalan perlahan...setelahnya kami pun memasuki wilayah Sungai Landai kemudian masuk wilayah Kabupaten Agam...dan tak terasa beberapa saat lagi kami akan memasuki kota Bukittinggi...dan akhirnya tepat jam 12.45wib kami pun tiba di tengah-tengah kota Bukittinggi dengan berhenti tepat di lokasi Jam Gadang, suatu bangunan yang menjadi trademark kota Bukittinggi...
Setibanya di area Jam Gadang, kami berlima pun memanfaatkan waktu untuk bernarsis ria...dengan bermodalkan kamera digital Canon Powershot yang dibawa oleh Oky...sempat malu dan tengsin juga (bahasa apa nich?) saat kami foto-foto dengan gaya yang aneh-aneh, semua orang yang ada disitu yang notabene adalah warga lokal, memperhatikan kami sambil senyum-senyum....namun karena kami yang memang cuek, jadi sesi foto-foto terus berlangsung...tak terasa jarum kecil di Jam Gadang sudah menunjukkan di angka 2 kurang 15 menit.
Mengenai sejarah Jam Gadang, Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 pada saat penjajahan Belanda. Jam Gadang dibangun oleh Pemerintahan Belanda saat itu sebagai trademark dari kota Bukittinggi sekaligus pengontrol waktu bagi penjajah Belanda dalam menjalankan roda pemerintahannya waktu itu. Jam Gadang telah mengalami 3 kali renovasi yakni, saat masa Belanda, masa penjajahan Jepang dan saat pemerintahan Orde Lama dengan mengganti bagian atas Jam Gadang dengan atap rumah ciri khas rumah Minang, oh ya! angka-angka yang ada di Jam Gadang ini ditulis dengan angka Romawi dan yang menjadi keunikan dari Jam Gadang ini adalah untuk angka 4 pada Jam Gadang tidak ditulis dengan simbol IV namun dengan simbol IIII...hehehe aneh juga ya orang Belanda dulu....?
Tak terasa setelah foto-foto, kami berlima merasakan perut yang sudah bernyanyi...kami pun mencari tempat wisata kuliner yang recommended...dari hasil nanya-nanya via SMS ke kakak ipar gw yang emang asli dari Lawang, Bukittinggi didapatlah lokasi wisata kuliner di Bukittinggi, yakni Nasi Kapau Uni Lis yang ada di tengah-tengah Pasar Bukittinggi, kami pun memasuki pasar Bukittinggi, setelah mencari-cari dan sempat bertanya 3 kali ke pedagang disitu, akhirnya kami menemukan lokasi Nasi Kapau Uni Lis...hemmm lokasinya benar-benar ada di tengah pasar Bukittinggi...
Makan siang pun berjalan lancar dan kami yang memang sudah lapar, melahap makanan yang dihidangkan...setelah makan dan ngobrol-ngobrol, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 15.00wib...kami pun memutuskan untuk kembali bergerak...sesuai informasi yang kami terima dari supir travel sebelumnya, bahwa ada tempat wisata disini yakni Ngarai Sianok dan Goa Jepang dan akhirnya setelah didiskusikan sesaat maka kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami untuk mengunjungi Ngarai Sianok tersebut...
Lagi-lagi dengan style backpackers, kami bertanya sana-sini mengenai lokasi Ngarai...ternyata dari beberapa orang yang kami tanyakan dijawab jawaban yang sama bahwa lokasinya tidak jauh dari Jam Gadang hanya sekitar 1 kilometer dan kalo jalan kaki sekitar 15 menit...sempat muncul pertanyaan...apakah benar 1 kilo? apa benar bisa dicapai hanya dengan jalan kaki?...karena biasanya ukuran orang setempat dengan orang Jakarta sering selisih jauh...hehehe...namun dengan keyakinan yang bulat akhirnya kami berlima pun berjalan kaki ke arah Ngarai dan memang benar apa yang dibilang, sekitar 15 menit kemudian kami pun tiba di lokasi Ngarai Sianok yang sekarang dinamakan dengan Taman Panorama - Lobang Jepang...
Kami berlima pun masuk ke Taman Panorama dengan sebelumnya kami membayar tiket masuk sebesar Rp. 4.000 perak (murah banget ya?)...di Taman Panorama kami pun kembali narsis dengan foto-foto dan mengambil background Ngarai Sianok yang tegar berdiri dengan angkuhnya dibelakang kami, oh ya Ngarai Sianok ini pernah menjadi trademark uang kertas seribuan tahun 1980-an...(ada yang masih nyimpen gak uangnya?)..
Setelah puas foto-foto kamipun turun ke lokasi Lobang Jepang...Lobang atau Goa dengan kedalaman 40 meter dibawah tanah dibangun pada saat Jepang menjajah Indonesia, Lobang ini dibuat untuk "mendidik" Romusha, sistem kerja paksa ala Jepang yang dikenakan terhadap pemuda-pemuda Indonesia waktu itu...diawali dengan menuruni tangga sepanjang 64 meter dengan jumlah 132 anak tangga, kami pun tiba di dasar Goa...hawa dingin bawah tanah yang menyelimuti cukup membuat kami kedinginan...namun lagi-lagi dengan style narsis kami, terlebih lagi si Agam yang sangat narsis, kami tetap foto-foto dan tetap menjadi banci kamera hahaaha....hawa dingin pun dapat kami lawan....
Di dalam goa, kami memasuki lorong-lorong yang ada, dari mulai ruang amunisi, ruang duduk, ruang kerja Romusha, dapur, ruang penyergapan, ruang pengintaian, penjara sampai dengan lobang mayat (hiiiii.....!!) yang digunakan untuk membuang para Romusha yang melawan setelah dipenjara dan disiksa oleh tentara Jepang...
Setelah kami mengelilingi seluruh bagian Goa Jepang, kami pun kembali ke tangga awal untuk keluar....pyyyffuuh....kami harus menaiki 132 anak tangga! ... dengan rasa sedikit malas dan kecapean setelah di-tengah-tengah tangga, akhirnya kami dapat mencapai pintu dimana kami masuk tadi...sempat beristirahat sesaat, dan tepat jam 16.45 wib, kami memutuskan untuk kembali ke kota Padang...
setelah berjalan kaki dari lokasi Taman Panorama (Ngarai Sianok dan Lobang Jepang) menuju ke arah Terminal Bukittinggi, kami tetap bertanya sana sini tentang lokasi pangkalan mobil travel plat nomor hitam, didapatlah jawaban bahwa kalo mobil tersebut mangkal di depan kantor pos Bukittinggi, akhirnya, lagi-lagi kami berjalan kaki ke lokasi tersebut...dan mobil yang dimaksud pun ada, sebuah Kijang lagi dan sudah ada 3 penumpang dan akhirnya setelah ditambah kami berlima maka penuh sesaklah Kijang tersebut, setelah membayar Rp. 18.000 saja maka Kijang pun mulai bergerak ke Padang...finally kami pun pulang kembali ke Padang dan tiba kembali di Pangeran Beach Hotel tepat jam 19.30wib
alhamdulillah, pengalaman backpackers yang belum pernah dialami di bumi Sumatra ini akhirnya terlaksana...terima kasih kepada rekan-rekan :
- Oky, yang udah bawa kamera digital, ga tau dech tanpa ada kamera mungkin perjalanan ini ga ada ceritanya (ditunggu loh upload foto2nya)
- Carol alias Carolus yang ga pernah malu-malu untuk nanya sana-sini...
- Agam yang sangat narsis pas foto-foto, ga ada loe ga rame...
- Tyo, rekan dari Underwriting yang udah mau capek2 n ngikutin kegilaan kami...
*Padang-Bukittinggi-Padang, sebuah perjalanan sederhana*
Minggu, 1 Juni 2008 pukul 10.00wib kita pun siap berangkat, meski molor dari rencana semula jam 8 pagi kita harus sudah berangkat, namun tidak mengurangi antusias gw dan rekan-rekan untuk bergerak. Diawali dengan mengambil uang di ATM BII dan BNI yang ada di hotel Pangeran Beach tempat kami menginap, kemudian Carol bertanya ke security hotel menanyakan alamat travel Tranex Mandiri yang memiliki rute Padang-Bukittinggi. Didapatlah jawaban bahwa kami harus naik angkot dulu sekali ke arah Minang Plaza. Kemudian kami pun menunggu angkot yang lewat depan hotel dan akhirnya datang angkot tersebut. Di perjalanan selama di angkot, rekan dari supir angkot pun bertanya kami akan kemana, lalu kami menjawab akan ke Bukittinggi. Rekan dari supir angkot tersebut memberitahu sebaiknya naik travel plat nomor hitam saja supaya lebih cepat dan tidak menunggu penumpang penuh dulu baru berangkat, mobilnya pun minibus dan biasanya bagus-bagus. Cukup membayar sedikit lebih mahal dari travel resmi namun secara waktu lebih cepat. Akhirnya kami diantar ke depan Minang Plaza tempat travel plat nomor hitam biasa mangkal.
Sesampainya di Minang Plaza kami pun ditawari tujuan ke Bukittinggi. Untuk membedakan mobil travel dengan merk Toyota Kijang dengan Kijang mobil pribadi adalah mobil travel memilik ciri-ciri adalah pintu bagasi belakang dibuka pada saat parkir. Kemudian kami menanyakan kepada uda-uda yang ada disitu berapa ongkos ke Bukittinggi dan mendapat jawaban seharga Rp. 20.000,- (ga terlalu mahal juga yaaa dibanding travel resmi yang Rp. 15.000,-). Akhirnya kami sepakat untuk memilih mobil Kijang warna merah maroon. Namun karena tidak langsung jalan karena mobil belum penuh (kami hanya berlima sedangkan mobil masih bisa memuat 2 orang lagi) akhirnya kami meminta agar mobil dapat langsung berangkat, mengingat waktu yang semakin siang, waktu itu hampir jam 11 siang, dan akan menambah ongkos 10.000 per kepala dengan syarat mobil langsung berangkat. Dan uda yang menjadi timer disitu pun setuju, akhirnya kami pun berangkat tepat jam 11.00wib dari seberang Minang Plaza.
Perjalanan yang kami tempuh melalui daerah-daerah yang sempat gw catat adalah dimulai dari kota Padang lalu menuju ke arah Bandara Minangkabau selanjutnya kami melewati daerah Batang Anai, kemudian Lubuk Alung. Memasuki wilayah Enam Lingkung kami disambut dengan hujan lokal yang gerimis saja...namun hawa masih sangat panas siang itu.
Kijang yang dikendarai si Uda melaju dengan kecepatan yang menurut gw cukup kencang. Lari dengan kecepatan sekitar 90-100 km/jam menurut gw sudah sangat kencang untuk kondisi mobil dengan berpenumpang total 6 orang. Berkali-kali kami selalu mengingatkan ke di Uda supir untuk santai saja dalam berkendara, namanya juga jalan-jalan....
Tak terasa kami pun sampai di persimpangan yang ke arah Pariaman, namun kami ambil lurus terus menuju wilayah Sicincin, disini hujan sudah tidak ada lagi, kembali hawa panas menyerang, mobil yang memang dari awal tidak dinyalakan AC nya menambah lagi kepanasan yang kami rasakan. Lewat dari Sicincin kami memasuki daerah Kayutanam dan akhirnya masuk ke lembah Gunung Singgalang, mulai disini hawa mulai sejuk dan pemandangan sudah terlihat menghijau dengan bentaran Gunung Singgalang di depan kami...jalan berkelak kelok pun kami lewati dengan nyaman...dan tibalah akhirnya kami melewati air terjun Lembah Anai, sempat terpikir berhenti dulu untuk foto-foto namun karena waktu sudah siang dan berharap tiba di Bukittinggi pas makan siang dan pas waktunya untuk sholat Dzhuhur.
Setelah melewati Lembah Anai kami pun masuk wilayah Lumpukuda, dan beberapa lama kemudian akhirnya kami memasuki kota Padang Panjang, sempat terhambat beberapa saat karena situasi kota Padang Panjang yang ramai dan banyaknya angkot yang mengetem sembarangan pas di lampu merah sehingga menambah kemacetan makin parah. Namun dengan situasi tersebut kami tetap santai saja karena memang dalam rangka jalan-jalan...dalam perjalanan beberapa rekan kami pun tertidur karena hawa sejuk yang merasuki seisi ruangan mobil kami...
Setelah melewati Padang Panjang kami memasuki daerah X Koto (bacanya apa ya Kali Koto?) Kabupaten Tanah Datar dan menemui jalan yang rusak dan berlobang serta sisa-sisa longsor beberapa hari lalu dari bukit yang masih ada di sisi kiri dan kanan jalan yang kami lalui....mobil yang kami tumpangi pun berjalan perlahan...setelahnya kami pun memasuki wilayah Sungai Landai kemudian masuk wilayah Kabupaten Agam...dan tak terasa beberapa saat lagi kami akan memasuki kota Bukittinggi...dan akhirnya tepat jam 12.45wib kami pun tiba di tengah-tengah kota Bukittinggi dengan berhenti tepat di lokasi Jam Gadang, suatu bangunan yang menjadi trademark kota Bukittinggi...
Setibanya di area Jam Gadang, kami berlima pun memanfaatkan waktu untuk bernarsis ria...dengan bermodalkan kamera digital Canon Powershot yang dibawa oleh Oky...sempat malu dan tengsin juga (bahasa apa nich?) saat kami foto-foto dengan gaya yang aneh-aneh, semua orang yang ada disitu yang notabene adalah warga lokal, memperhatikan kami sambil senyum-senyum....namun karena kami yang memang cuek, jadi sesi foto-foto terus berlangsung...tak terasa jarum kecil di Jam Gadang sudah menunjukkan di angka 2 kurang 15 menit.
Mengenai sejarah Jam Gadang, Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 pada saat penjajahan Belanda. Jam Gadang dibangun oleh Pemerintahan Belanda saat itu sebagai trademark dari kota Bukittinggi sekaligus pengontrol waktu bagi penjajah Belanda dalam menjalankan roda pemerintahannya waktu itu. Jam Gadang telah mengalami 3 kali renovasi yakni, saat masa Belanda, masa penjajahan Jepang dan saat pemerintahan Orde Lama dengan mengganti bagian atas Jam Gadang dengan atap rumah ciri khas rumah Minang, oh ya! angka-angka yang ada di Jam Gadang ini ditulis dengan angka Romawi dan yang menjadi keunikan dari Jam Gadang ini adalah untuk angka 4 pada Jam Gadang tidak ditulis dengan simbol IV namun dengan simbol IIII...hehehe aneh juga ya orang Belanda dulu....?
Tak terasa setelah foto-foto, kami berlima merasakan perut yang sudah bernyanyi...kami pun mencari tempat wisata kuliner yang recommended...dari hasil nanya-nanya via SMS ke kakak ipar gw yang emang asli dari Lawang, Bukittinggi didapatlah lokasi wisata kuliner di Bukittinggi, yakni Nasi Kapau Uni Lis yang ada di tengah-tengah Pasar Bukittinggi, kami pun memasuki pasar Bukittinggi, setelah mencari-cari dan sempat bertanya 3 kali ke pedagang disitu, akhirnya kami menemukan lokasi Nasi Kapau Uni Lis...hemmm lokasinya benar-benar ada di tengah pasar Bukittinggi...
Makan siang pun berjalan lancar dan kami yang memang sudah lapar, melahap makanan yang dihidangkan...setelah makan dan ngobrol-ngobrol, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 15.00wib...kami pun memutuskan untuk kembali bergerak...sesuai informasi yang kami terima dari supir travel sebelumnya, bahwa ada tempat wisata disini yakni Ngarai Sianok dan Goa Jepang dan akhirnya setelah didiskusikan sesaat maka kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami untuk mengunjungi Ngarai Sianok tersebut...
Lagi-lagi dengan style backpackers, kami bertanya sana-sini mengenai lokasi Ngarai...ternyata dari beberapa orang yang kami tanyakan dijawab jawaban yang sama bahwa lokasinya tidak jauh dari Jam Gadang hanya sekitar 1 kilometer dan kalo jalan kaki sekitar 15 menit...sempat muncul pertanyaan...apakah benar 1 kilo? apa benar bisa dicapai hanya dengan jalan kaki?...karena biasanya ukuran orang setempat dengan orang Jakarta sering selisih jauh...hehehe...namun dengan keyakinan yang bulat akhirnya kami berlima pun berjalan kaki ke arah Ngarai dan memang benar apa yang dibilang, sekitar 15 menit kemudian kami pun tiba di lokasi Ngarai Sianok yang sekarang dinamakan dengan Taman Panorama - Lobang Jepang...
Kami berlima pun masuk ke Taman Panorama dengan sebelumnya kami membayar tiket masuk sebesar Rp. 4.000 perak (murah banget ya?)...di Taman Panorama kami pun kembali narsis dengan foto-foto dan mengambil background Ngarai Sianok yang tegar berdiri dengan angkuhnya dibelakang kami, oh ya Ngarai Sianok ini pernah menjadi trademark uang kertas seribuan tahun 1980-an...(ada yang masih nyimpen gak uangnya?)..
Setelah puas foto-foto kamipun turun ke lokasi Lobang Jepang...Lobang atau Goa dengan kedalaman 40 meter dibawah tanah dibangun pada saat Jepang menjajah Indonesia, Lobang ini dibuat untuk "mendidik" Romusha, sistem kerja paksa ala Jepang yang dikenakan terhadap pemuda-pemuda Indonesia waktu itu...diawali dengan menuruni tangga sepanjang 64 meter dengan jumlah 132 anak tangga, kami pun tiba di dasar Goa...hawa dingin bawah tanah yang menyelimuti cukup membuat kami kedinginan...namun lagi-lagi dengan style narsis kami, terlebih lagi si Agam yang sangat narsis, kami tetap foto-foto dan tetap menjadi banci kamera hahaaha....hawa dingin pun dapat kami lawan....
Di dalam goa, kami memasuki lorong-lorong yang ada, dari mulai ruang amunisi, ruang duduk, ruang kerja Romusha, dapur, ruang penyergapan, ruang pengintaian, penjara sampai dengan lobang mayat (hiiiii.....!!) yang digunakan untuk membuang para Romusha yang melawan setelah dipenjara dan disiksa oleh tentara Jepang...
Setelah kami mengelilingi seluruh bagian Goa Jepang, kami pun kembali ke tangga awal untuk keluar....pyyyffuuh....kami harus menaiki 132 anak tangga! ... dengan rasa sedikit malas dan kecapean setelah di-tengah-tengah tangga, akhirnya kami dapat mencapai pintu dimana kami masuk tadi...sempat beristirahat sesaat, dan tepat jam 16.45 wib, kami memutuskan untuk kembali ke kota Padang...
setelah berjalan kaki dari lokasi Taman Panorama (Ngarai Sianok dan Lobang Jepang) menuju ke arah Terminal Bukittinggi, kami tetap bertanya sana sini tentang lokasi pangkalan mobil travel plat nomor hitam, didapatlah jawaban bahwa kalo mobil tersebut mangkal di depan kantor pos Bukittinggi, akhirnya, lagi-lagi kami berjalan kaki ke lokasi tersebut...dan mobil yang dimaksud pun ada, sebuah Kijang lagi dan sudah ada 3 penumpang dan akhirnya setelah ditambah kami berlima maka penuh sesaklah Kijang tersebut, setelah membayar Rp. 18.000 saja maka Kijang pun mulai bergerak ke Padang...finally kami pun pulang kembali ke Padang dan tiba kembali di Pangeran Beach Hotel tepat jam 19.30wib
alhamdulillah, pengalaman backpackers yang belum pernah dialami di bumi Sumatra ini akhirnya terlaksana...terima kasih kepada rekan-rekan :
- Oky, yang udah bawa kamera digital, ga tau dech tanpa ada kamera mungkin perjalanan ini ga ada ceritanya (ditunggu loh upload foto2nya)
- Carol alias Carolus yang ga pernah malu-malu untuk nanya sana-sini...
- Agam yang sangat narsis pas foto-foto, ga ada loe ga rame...
- Tyo, rekan dari Underwriting yang udah mau capek2 n ngikutin kegilaan kami...
*Padang-Bukittinggi-Padang, sebuah perjalanan sederhana*
Wednesday, April 09, 2008
Memimpin Minus Pengawal
Sehari Bersama Ketua MPR Hidayat Nur Wahid
(Koran Tempo Ia memulai hari dengan bersujud. Bersarung cokelat kotak-kotak, baju koko putih, dan peci hitam, Hidayat Nur Wahid, 48 tahun, ditemani putra bungsunya, Hubaib Shidiq, 9 tahun, keluar dari kamar tidur menuju musala di samping kanan rumah dinasnya. Di musala berukuran 3 x 6 meter itu telah menunggu dua staf pribadi Hidayat yang juga akan salat subuh bersama, pukul 04.45 WIB Rabu lalu.
Pukul 05.10, seusai shalat subuh, Hidayat dan Hubaib beranjak ke lantai 2 rumahnya. Di bangunan utama rumah dinas Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat itu terdapat satu kamar tidur utama dan dua kamar tidur anak. Di depan ketiga kamar itu ada ruang berukuran 3 x 4 meter untuk ruang keluarga. Selama 15 menit Hidayat dan Hubaib
melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran di situ.
Sejak Kastian Indriawati, 45 tahun, istrinya, meninggal pada 22 Januari lalu, Hidayat menjadi orang tua tunggal bagi Inayah Dzil Izzati (kelas V Pesantren Gontor), Ruzaina (kelas III SMP Pesantren Anyer, Banten), Allaâ 'Khoiri (kelas I Pesantren Gontor), dan Hubaib Shidiq (kelas IV sekolah dasar di Pondok Gede, Bekasi). Di tengah kesibukannya sebagai Ketua MPR, guru, dan anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera, Hidayat berusaha menyempatkan diri menyiapkan keperluan sekolah Hubaib, satu-satunya anak yang tinggal bersamanya.
Pukul 05.55, Hidayat melepas Hubaib ke sekolah, diantar sopir keluarga mengendarai mobil pribadi Innova warna hitam. Sejak istrinya tiada, Hidayat ingin selalu melepas, nguntapke, Hubaib berangkat sekolah.
Pukul 06.00, berkaus putih, celana olahraga panjang hitam, dan sepatu putih, Hidayat menuju lapangan bulu tangkis yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah dinasnya menggunakan mobil pribadi Toyota Kijang LGX warna biru. Bersama staf pribadinya dan beberapa staf pribadi menteri di kompleks Widya Candra, pagi itu Hidayat main empat set langsung dengan dua kali istirahat masing-masing lima menit.
Hidayat selalu bermain cantik di tiap set. Smash dan permainan net menunjukkan kepiawaiannya bermain tepok bulu. Walhasil, pria kelahiran Klaten ini selalu memenangi pertandingan.
Bulu tangkis adalah hobinya selain sepak bola. Minimal tiap Selasa dan Rabu dia selalu menyempatkan diri memukul shuttlekok. Dia suka badminton sejak remaja. Di samping rumah orang tuanya di Kadipaten Lor RT 03 RW 08, Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten, ada lapangan badminton yang biasa dipakai keluarga dan warga sekitarnya.
Kebiasaan itu diteruskan Hidayat saat 13 tahun belajar di Madinah, Arab Saudi. Bersama teman-teman pelajar dari Indonesia dia membuat lapangan bulu tangkis di samping kontrakan.
Pukul 07.50, Hidayat menyudahi badminton. Menenteng tas raket, ia berjalan kaki menuju rumah dinasnya. Sesampai di rumah, Hidayat meminta izin kepada Tempo membersihkan diri dan bersiap-siap berangkat ke kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Dua puluh lima menit kemudian Hidayat ke lantai 2 menuju meja makan yang letaknya di bawah kamar tidur utama. Ruang makan menyatu dengan ruang keluarga, bersebelahan dengan ruang tamu dan ruang rapat.
Seperti di ruangan lainnya, di ruangan seukuran lapangan bulu tangkis ini tidak ada aksesori yang tergolong mewah. Hanya ada televisi 21inci dan akuarium berukuran 1 x 0,5 meter yang dihuni seekor ikan arwana. Di dinding tergantung satu lukisan bunga, foto Hidayat bersama para pemimpin MPR, serta foto-foto mendiang istrinya.
Menu sarapan kali itu nasi uduk, kering tempe, ayam dan telur goreng, sambal, dan kerupuk. Buahnya jeruk dan lengkeng, minumannya jus jambu dan air mineral. Tapi Hidayat hanya mengambil kering tempe, ayam goreng, sambal, dan kerupuk sebagai teman nasi uduk.
Hidayat agaknya penggemar kerupuk. Sekali makan, lebih dari tiga kali ia merogoh kaleng krupuk dari plastik itu. Ia mengaku tidak punya pantangan jenis makanan tertentu. Tapi masakan tradisional Jawa, seperti pecel, botok, sambal goreng, sayur lodeh, dan tentu saja kerupuk, paling ia gemari.
Untuk bekerja hari itu Hidayat memilih kemeja batik lengan panjang biru dengan motif kawung putih dan celana hitam. Hidayat jarang mengenakan jas. Dia lebih sering mengenakan batik, kecuali untuk acara kenegaraan yang mewajibkan jas.
Hidayat mengaku tak punya merek pakaian favorit. Istrinyalah yang biasanya menyediakan pakaiannya. Batik yang ia kenakan hari itu, misalnya, bahannya dibelikan Kastian dan dijahit di Pondok Gede, dekat rumah pribadinya.
Mendiang Kastian pula yang membelikan jam tangan Tissot yang dikenakan Hidayat, juga telepon seluler Nokia--bukan Communicator. Kastian membelikannya saat berhaji, beberapa hari sebelum meninggal. "Ini kenang-kenangan terakhir almarhumah (istri saya)."
Pukul 09.10, Hidayat bersiap ke kantor PKS.
Tanpa istrinya, kini Hidayat menyiapkan sendiri semua keperluannya. Memilih baju dan celana sampai menyemir sepatu. Sepatu yang dikenakannya hari itu sepatu Bata hitam yang terletak di samping tangga menuju lantai 2. Sepatu itu sudah tak mengkilap sehingga Hidayat perlu menyemirnya dulu. Ia tidak banyak memiliki koleksi sepatu atau sandal.
Setelah bersepatu, Hidayat memeriksa semua lampu ruangan. Lampu yang tidak dipakai dimatikannya.
Pukul 09.25, Hidayat masuk ke mobil Toyota Kijang LGX warna biru menuju kantor DPP PKS. Rencananya, pukul 10.00 akan ada deklarasi pencalonan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Karena untuk kepentingan partai, Hidayat tak menggunakan Camry, mobil dinas Ketua MPR. Hidayat duduk di kursi belakang. Di depan ada sopir dan ajudannya.
Meski pejabat negara, Hidayat jarang dikawal dan kerap bepergian tanpa voorrijder. Ia merasa aman dan nyaman tanpa mereka karena merasa tak punya musuh, sehingga tidak khawatir keamanannya terancam.
Tapi, tanpa voorrijder, ditambah lalu lintas yang kerap macet, perjalanannya jadi lebih lama. Dari Widya Candra menuju Mampang Prapatan pagi itu perlu 30 menit. Di perjalanan, Hidayat sempat menunjukkan tukang potong rambut langganannya. Letaknya di deretan warung Padang dan warung Tegal di pinggir Jalan Mampang Prapatan Raya.
Sebulan sekali dia potong rambut di situ. "Ongkosnya Rp 9.000 sekali
cukur."
Pukul 10.00, Hidayat tiba di kantor PKS. Deklarasi ditunda karena Presiden PKS Tifatul Sembiring dipastikan datang pukul 10.30. Di situ Hidayat bertemu dengan Ketua Majelis Syura Hilmi Aminuddin, Ketua Dewan Syariah Surahman, serta pengurus PKS Jawa Barat.
Hidayat belum pernah belajar politik secara formal. Tapi ia lahir dari keluarga aktivis. Kakeknya tokoh Muhammadiyah dan Masyumi di Prambanan, Jawa Tengah. Ibunya aktivis Aisyiyah--organisasi perempuan Muhammadiyah. Dan ayahnya, meski berlatar belakang Nahdlatul Ulama, menjadi pengurus Muhammadiyah. Kastian juga penggiat Ikatan Pelajar Muhammadiyah.
Hidayat menimba ilmu berorganisasi di Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) cabang Madinah. PPI Madinah adalah salah satu organisasi yang menolak penerapan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi organisasi di masa Orde Baru. Beberapa kali petugas kedutaan dan menteri kabinet Soeharto membujuk agar PPI Madinah mengakui Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi, tapi tak mempan.
Hidayat kembali ke Indonesia pada 1993 dan mengajar di Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang. Ketika reformasi bergulir, bersama-sama aktivis muslim ia mendirikan Partai Keadilan. Kini, setelah berganti menjadi Partai Keadilan Sejahtera, partai yang semula hanya menerima anggota dari kalangan Islam itu mulai membuka diri untuk nonmuslim.
Tapi rekrutmen partainya, kata Hidayat, tetap taat pada jenjang pengkaderan. Untuk menentukan calon di parlemen, PKS akan melihat siapa yang akan diwakili calon itu. Jika penduduk yang akan diwakili mayoritas selain Islam, wakilnya bisa saja dari nonmuslim juga. Hidayat hanya 20 menit berada di kantor PKS. Ia buru-buru menuju
gedung MPR/DPR untuk menerima delegasi dari PPI.
Pukul 11.00, Hidayat tiba di gedung MPR/DPR. Tapi tamu yang ditunggunya dari PPI batal datang. Hidayat meneruskan pekerjaan dengan memeriksa beberapa dokumen dan menekennya.
Pukul 13.00, Hidayat menerima delegasi dari Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association Turki. Mereka mencari cara mempererat hubungan Indonesia dengan Turki.
Pukul 14.00, Hidayat menerima kunjungan rombongan Presiden National Endowment for Democracy Carl Gersham. Carl meminta Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi menularkan pengalamannya ke negara-negara di Timur Tengah. Hidayat menolak. Alasannya, "Rusaknya demokrasi di Timur Tengah karena sikap politik Amerika Serikat yang berstandar ganda."
Ia mencontohkan pemilu di Palestina. Khalayak, kata Hidayat, tahu pemilu Palestina sangat demokratis. Tapi karena rayuan Israel, negara-negara Barat termasuk Amerika tidak mengakui hasil pemilu itu. Menurut dia, Timur Tengah akan demokratis jika Amerika demokratis. "Jadi jangan Indonesia diminta mengajarkan demokrasi ke Timur Tengah. Mereka (Timur Tengah) melihat perilaku Amerika sendiri."
Meski banyak menerima tamu, Hidayat selalu tepat waktu untuk salat. Begitu azan berkumandang, dia bergegas berwudu. Pukul 15.25, Hidayat salat asar. Di ruangannya tersedia perlengkapan salat, termasuk peci yang bagian atasnya sedikit robek.
Pukul 15.40, Hidayat bersiap-siap kembali ke rumah dinasnya karena pukul 16.30 ia akan menerima Hanung Bramantyo, sutradara film Ayat-ayat Cinta yang lagi populer.
Pukul 15.45, Hidayat memasuki Camry, mobil dinasnya. Kali ini memang untuk kepentingan tugasnya sebagai Ketua MPR. Tapi tetap tanpa voorrijder. Hidayat jarang dikawal voorrijder kecuali kalau ada acara yang mendesak segera didatangi, tak boleh telat, dan lalu lintas macet.
Untuk acara yang bisa diatur jadwalnya dan tidak mendadak, dia pergi tanpa voorrijder. "Semua tergantung bagaimana kita mengatur waktu saja." Mobil Camry dengan pelat bernomor RI-5 itu pun mengarungi samudra kemacetan bersama mobil-mobil lainnya di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Pukul 16.25, Hidayat sampai di rumah dinasnya. Sepuluh menit berselang, tamu yang ditunggu, Hanung, datang. Hidayat menyambut Hanung di ruang tamu, mengenakan baju putih bermotif kotak-kotak pendek dan celana hitam. Hanung meminta pendapat Hidayat tentang film Ayat-ayat Cinta sekaligus saran untuk film Ahmad Dahlan--pendiri
Muhammadiyah--yang akan dibikinnya.
Meski hanya tiga kali menonton film seumur hidupnya, Hidayat mengkritik beberapa lafal bahasa Arab dalam adegan Ayat-ayat Cinta yang grammar-nya tidak benar. Lokasi shooting yang tidak sesuai dengan kondisi Mesir dikritik. Hidayat juga mempertanyakan mengapa Hanung menonjolkan sisi poligami dalam film itu, padahal dalam novelnya tidak.
Soal rencana membuat film Ahmad Dahlan, Hidayat menyarankan agar dalam film itu juga disinggung soal K.H. Hasyim Ashari, pendiri Nahdlatul Ulama. Menurut Hidayat, keduanya teman yang akrab dan satu guru saat menempuh pendidikan di Madinah.
Kiai Hasyim dan Ahmad Dahlan, kata Hidayat, satu kapal dalam perjalanan dari Pulau Jawa ke Arab Saudi. Meski berbeda pandangan tentang beberapa hal soal khilafiah, mereka berdua saling menghargai. Hidayat menerima Hanung selama dua jam, hingga pukul 18.35.
Pukul 18.45, Hidayat berangkat ke Warung Buncit untuk memenuhi undangan peringatan Maulid Nabi di Pesantren Assalafi Daarul Islah, Jalan Buncit Raya. Kali ini dia mengenakan baju koko putih dan celana hitam. Untuk keperluan ini dia menggunakan mobil pribadi Toyota Kijang LGX biru, tanpa pengawal dan voorrijder.
Akibatnya, dia terjebak kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Mampang, dan Buncit Raya. Sejam lebih bertarung dengan kemacetan, Hidayat tiba di lokasi pukul 20.05. Di acara itu Hidayat sempat berceramah selama 30 menit.
Pukul 21.35, Hidayat kembali ke rumah dinasnya. Perjalanan lancar karena sudah malam. Dua puluh menit kemudian Hidayat sampai di rumah dinasnya. Sebelum tidur pada 23.00, Hidayat membaca semua surat yang masuk dan menutup hari dengan membaca Al-Quran. (Koran Tempo)
(Koran Tempo Ia memulai hari dengan bersujud. Bersarung cokelat kotak-kotak, baju koko putih, dan peci hitam, Hidayat Nur Wahid, 48 tahun, ditemani putra bungsunya, Hubaib Shidiq, 9 tahun, keluar dari kamar tidur menuju musala di samping kanan rumah dinasnya. Di musala berukuran 3 x 6 meter itu telah menunggu dua staf pribadi Hidayat yang juga akan salat subuh bersama, pukul 04.45 WIB Rabu lalu.
Pukul 05.10, seusai shalat subuh, Hidayat dan Hubaib beranjak ke lantai 2 rumahnya. Di bangunan utama rumah dinas Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat itu terdapat satu kamar tidur utama dan dua kamar tidur anak. Di depan ketiga kamar itu ada ruang berukuran 3 x 4 meter untuk ruang keluarga. Selama 15 menit Hidayat dan Hubaib
melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran di situ.
Sejak Kastian Indriawati, 45 tahun, istrinya, meninggal pada 22 Januari lalu, Hidayat menjadi orang tua tunggal bagi Inayah Dzil Izzati (kelas V Pesantren Gontor), Ruzaina (kelas III SMP Pesantren Anyer, Banten), Allaâ 'Khoiri (kelas I Pesantren Gontor), dan Hubaib Shidiq (kelas IV sekolah dasar di Pondok Gede, Bekasi). Di tengah kesibukannya sebagai Ketua MPR, guru, dan anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera, Hidayat berusaha menyempatkan diri menyiapkan keperluan sekolah Hubaib, satu-satunya anak yang tinggal bersamanya.
Pukul 05.55, Hidayat melepas Hubaib ke sekolah, diantar sopir keluarga mengendarai mobil pribadi Innova warna hitam. Sejak istrinya tiada, Hidayat ingin selalu melepas, nguntapke, Hubaib berangkat sekolah.
Pukul 06.00, berkaus putih, celana olahraga panjang hitam, dan sepatu putih, Hidayat menuju lapangan bulu tangkis yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah dinasnya menggunakan mobil pribadi Toyota Kijang LGX warna biru. Bersama staf pribadinya dan beberapa staf pribadi menteri di kompleks Widya Candra, pagi itu Hidayat main empat set langsung dengan dua kali istirahat masing-masing lima menit.
Hidayat selalu bermain cantik di tiap set. Smash dan permainan net menunjukkan kepiawaiannya bermain tepok bulu. Walhasil, pria kelahiran Klaten ini selalu memenangi pertandingan.
Bulu tangkis adalah hobinya selain sepak bola. Minimal tiap Selasa dan Rabu dia selalu menyempatkan diri memukul shuttlekok. Dia suka badminton sejak remaja. Di samping rumah orang tuanya di Kadipaten Lor RT 03 RW 08, Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten, ada lapangan badminton yang biasa dipakai keluarga dan warga sekitarnya.
Kebiasaan itu diteruskan Hidayat saat 13 tahun belajar di Madinah, Arab Saudi. Bersama teman-teman pelajar dari Indonesia dia membuat lapangan bulu tangkis di samping kontrakan.
Pukul 07.50, Hidayat menyudahi badminton. Menenteng tas raket, ia berjalan kaki menuju rumah dinasnya. Sesampai di rumah, Hidayat meminta izin kepada Tempo membersihkan diri dan bersiap-siap berangkat ke kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Dua puluh lima menit kemudian Hidayat ke lantai 2 menuju meja makan yang letaknya di bawah kamar tidur utama. Ruang makan menyatu dengan ruang keluarga, bersebelahan dengan ruang tamu dan ruang rapat.
Seperti di ruangan lainnya, di ruangan seukuran lapangan bulu tangkis ini tidak ada aksesori yang tergolong mewah. Hanya ada televisi 21inci dan akuarium berukuran 1 x 0,5 meter yang dihuni seekor ikan arwana. Di dinding tergantung satu lukisan bunga, foto Hidayat bersama para pemimpin MPR, serta foto-foto mendiang istrinya.
Menu sarapan kali itu nasi uduk, kering tempe, ayam dan telur goreng, sambal, dan kerupuk. Buahnya jeruk dan lengkeng, minumannya jus jambu dan air mineral. Tapi Hidayat hanya mengambil kering tempe, ayam goreng, sambal, dan kerupuk sebagai teman nasi uduk.
Hidayat agaknya penggemar kerupuk. Sekali makan, lebih dari tiga kali ia merogoh kaleng krupuk dari plastik itu. Ia mengaku tidak punya pantangan jenis makanan tertentu. Tapi masakan tradisional Jawa, seperti pecel, botok, sambal goreng, sayur lodeh, dan tentu saja kerupuk, paling ia gemari.
Untuk bekerja hari itu Hidayat memilih kemeja batik lengan panjang biru dengan motif kawung putih dan celana hitam. Hidayat jarang mengenakan jas. Dia lebih sering mengenakan batik, kecuali untuk acara kenegaraan yang mewajibkan jas.
Hidayat mengaku tak punya merek pakaian favorit. Istrinyalah yang biasanya menyediakan pakaiannya. Batik yang ia kenakan hari itu, misalnya, bahannya dibelikan Kastian dan dijahit di Pondok Gede, dekat rumah pribadinya.
Mendiang Kastian pula yang membelikan jam tangan Tissot yang dikenakan Hidayat, juga telepon seluler Nokia--bukan Communicator. Kastian membelikannya saat berhaji, beberapa hari sebelum meninggal. "Ini kenang-kenangan terakhir almarhumah (istri saya)."
Pukul 09.10, Hidayat bersiap ke kantor PKS.
Tanpa istrinya, kini Hidayat menyiapkan sendiri semua keperluannya. Memilih baju dan celana sampai menyemir sepatu. Sepatu yang dikenakannya hari itu sepatu Bata hitam yang terletak di samping tangga menuju lantai 2. Sepatu itu sudah tak mengkilap sehingga Hidayat perlu menyemirnya dulu. Ia tidak banyak memiliki koleksi sepatu atau sandal.
Setelah bersepatu, Hidayat memeriksa semua lampu ruangan. Lampu yang tidak dipakai dimatikannya.
Pukul 09.25, Hidayat masuk ke mobil Toyota Kijang LGX warna biru menuju kantor DPP PKS. Rencananya, pukul 10.00 akan ada deklarasi pencalonan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Karena untuk kepentingan partai, Hidayat tak menggunakan Camry, mobil dinas Ketua MPR. Hidayat duduk di kursi belakang. Di depan ada sopir dan ajudannya.
Meski pejabat negara, Hidayat jarang dikawal dan kerap bepergian tanpa voorrijder. Ia merasa aman dan nyaman tanpa mereka karena merasa tak punya musuh, sehingga tidak khawatir keamanannya terancam.
Tapi, tanpa voorrijder, ditambah lalu lintas yang kerap macet, perjalanannya jadi lebih lama. Dari Widya Candra menuju Mampang Prapatan pagi itu perlu 30 menit. Di perjalanan, Hidayat sempat menunjukkan tukang potong rambut langganannya. Letaknya di deretan warung Padang dan warung Tegal di pinggir Jalan Mampang Prapatan Raya.
Sebulan sekali dia potong rambut di situ. "Ongkosnya Rp 9.000 sekali
cukur."
Pukul 10.00, Hidayat tiba di kantor PKS. Deklarasi ditunda karena Presiden PKS Tifatul Sembiring dipastikan datang pukul 10.30. Di situ Hidayat bertemu dengan Ketua Majelis Syura Hilmi Aminuddin, Ketua Dewan Syariah Surahman, serta pengurus PKS Jawa Barat.
Hidayat belum pernah belajar politik secara formal. Tapi ia lahir dari keluarga aktivis. Kakeknya tokoh Muhammadiyah dan Masyumi di Prambanan, Jawa Tengah. Ibunya aktivis Aisyiyah--organisasi perempuan Muhammadiyah. Dan ayahnya, meski berlatar belakang Nahdlatul Ulama, menjadi pengurus Muhammadiyah. Kastian juga penggiat Ikatan Pelajar Muhammadiyah.
Hidayat menimba ilmu berorganisasi di Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) cabang Madinah. PPI Madinah adalah salah satu organisasi yang menolak penerapan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi organisasi di masa Orde Baru. Beberapa kali petugas kedutaan dan menteri kabinet Soeharto membujuk agar PPI Madinah mengakui Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi, tapi tak mempan.
Hidayat kembali ke Indonesia pada 1993 dan mengajar di Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang. Ketika reformasi bergulir, bersama-sama aktivis muslim ia mendirikan Partai Keadilan. Kini, setelah berganti menjadi Partai Keadilan Sejahtera, partai yang semula hanya menerima anggota dari kalangan Islam itu mulai membuka diri untuk nonmuslim.
Tapi rekrutmen partainya, kata Hidayat, tetap taat pada jenjang pengkaderan. Untuk menentukan calon di parlemen, PKS akan melihat siapa yang akan diwakili calon itu. Jika penduduk yang akan diwakili mayoritas selain Islam, wakilnya bisa saja dari nonmuslim juga. Hidayat hanya 20 menit berada di kantor PKS. Ia buru-buru menuju
gedung MPR/DPR untuk menerima delegasi dari PPI.
Pukul 11.00, Hidayat tiba di gedung MPR/DPR. Tapi tamu yang ditunggunya dari PPI batal datang. Hidayat meneruskan pekerjaan dengan memeriksa beberapa dokumen dan menekennya.
Pukul 13.00, Hidayat menerima delegasi dari Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association Turki. Mereka mencari cara mempererat hubungan Indonesia dengan Turki.
Pukul 14.00, Hidayat menerima kunjungan rombongan Presiden National Endowment for Democracy Carl Gersham. Carl meminta Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi menularkan pengalamannya ke negara-negara di Timur Tengah. Hidayat menolak. Alasannya, "Rusaknya demokrasi di Timur Tengah karena sikap politik Amerika Serikat yang berstandar ganda."
Ia mencontohkan pemilu di Palestina. Khalayak, kata Hidayat, tahu pemilu Palestina sangat demokratis. Tapi karena rayuan Israel, negara-negara Barat termasuk Amerika tidak mengakui hasil pemilu itu. Menurut dia, Timur Tengah akan demokratis jika Amerika demokratis. "Jadi jangan Indonesia diminta mengajarkan demokrasi ke Timur Tengah. Mereka (Timur Tengah) melihat perilaku Amerika sendiri."
Meski banyak menerima tamu, Hidayat selalu tepat waktu untuk salat. Begitu azan berkumandang, dia bergegas berwudu. Pukul 15.25, Hidayat salat asar. Di ruangannya tersedia perlengkapan salat, termasuk peci yang bagian atasnya sedikit robek.
Pukul 15.40, Hidayat bersiap-siap kembali ke rumah dinasnya karena pukul 16.30 ia akan menerima Hanung Bramantyo, sutradara film Ayat-ayat Cinta yang lagi populer.
Pukul 15.45, Hidayat memasuki Camry, mobil dinasnya. Kali ini memang untuk kepentingan tugasnya sebagai Ketua MPR. Tapi tetap tanpa voorrijder. Hidayat jarang dikawal voorrijder kecuali kalau ada acara yang mendesak segera didatangi, tak boleh telat, dan lalu lintas macet.
Untuk acara yang bisa diatur jadwalnya dan tidak mendadak, dia pergi tanpa voorrijder. "Semua tergantung bagaimana kita mengatur waktu saja." Mobil Camry dengan pelat bernomor RI-5 itu pun mengarungi samudra kemacetan bersama mobil-mobil lainnya di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Pukul 16.25, Hidayat sampai di rumah dinasnya. Sepuluh menit berselang, tamu yang ditunggu, Hanung, datang. Hidayat menyambut Hanung di ruang tamu, mengenakan baju putih bermotif kotak-kotak pendek dan celana hitam. Hanung meminta pendapat Hidayat tentang film Ayat-ayat Cinta sekaligus saran untuk film Ahmad Dahlan--pendiri
Muhammadiyah--yang akan dibikinnya.
Meski hanya tiga kali menonton film seumur hidupnya, Hidayat mengkritik beberapa lafal bahasa Arab dalam adegan Ayat-ayat Cinta yang grammar-nya tidak benar. Lokasi shooting yang tidak sesuai dengan kondisi Mesir dikritik. Hidayat juga mempertanyakan mengapa Hanung menonjolkan sisi poligami dalam film itu, padahal dalam novelnya tidak.
Soal rencana membuat film Ahmad Dahlan, Hidayat menyarankan agar dalam film itu juga disinggung soal K.H. Hasyim Ashari, pendiri Nahdlatul Ulama. Menurut Hidayat, keduanya teman yang akrab dan satu guru saat menempuh pendidikan di Madinah.
Kiai Hasyim dan Ahmad Dahlan, kata Hidayat, satu kapal dalam perjalanan dari Pulau Jawa ke Arab Saudi. Meski berbeda pandangan tentang beberapa hal soal khilafiah, mereka berdua saling menghargai. Hidayat menerima Hanung selama dua jam, hingga pukul 18.35.
Pukul 18.45, Hidayat berangkat ke Warung Buncit untuk memenuhi undangan peringatan Maulid Nabi di Pesantren Assalafi Daarul Islah, Jalan Buncit Raya. Kali ini dia mengenakan baju koko putih dan celana hitam. Untuk keperluan ini dia menggunakan mobil pribadi Toyota Kijang LGX biru, tanpa pengawal dan voorrijder.
Akibatnya, dia terjebak kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Mampang, dan Buncit Raya. Sejam lebih bertarung dengan kemacetan, Hidayat tiba di lokasi pukul 20.05. Di acara itu Hidayat sempat berceramah selama 30 menit.
Pukul 21.35, Hidayat kembali ke rumah dinasnya. Perjalanan lancar karena sudah malam. Dua puluh menit kemudian Hidayat sampai di rumah dinasnya. Sebelum tidur pada 23.00, Hidayat membaca semua surat yang masuk dan menutup hari dengan membaca Al-Quran. (Koran Tempo)
Petisi Tolak Roy Suryo
To: MPR RI
Dengan ini kami sebagai individu-individu blogger indonesia menyatakan protes terhadap semua statement-statement tidak berdasar, tuduhan sembrono dan ocehan ngawur yang telah dikeluarkan oleh KRMT ROY SURYO (selanjutnya disebut 'yang bersangkutan') di berbagai media terhadap para blogger Indonesia. Maka dari itu kami yang menyatakan mendaftar disini sepakat untuk:
1. Menghimbau media pers indonesia untuk tidak menggunakan statemen yang bersangkutan sebagai acuan dalam berita, karena terlalu banyak statement yang dikeluarkan tanpa riset dan data yang valid.
2. Menghimbau yang bersangkutan untuk berhenti memberikan statement ngawur di media dan internet, dan lebih berhati-hati dalam melontarkan tuduhan-tuduhan.
3. Mendukung upaya pengajuan tuntutan pidana terhadap yang bersangkutan atas tuduhannya yang tidak berdasar pada blogger indonesia (dalam hal ini salah satunya Enda Nasution) seperti disebutkan dalam statementnya di Indocommit
4. Menuntut kepada pemerintah untuk melakukan upaya untuk menghentikan statement yang meresahkan berbagai pihak dan mempermalukan komunitas kepakaran IT indonesia tersebut.
Sincerely,
The Undersigned
--------------------------------------------------------------------------------
The Tolak Roy Suryo Petition to MPR RI was created by and written by Ardian Perdana Putra (delcardino@yahoo.com). This petition is hosted here at www.PetitionOnline.com as a public service. There is no endorsement of this petition, express or implied, by Artifice, Inc. or our sponsors. For technical support please use our simple Petition Help form.
Dengan ini kami sebagai individu-individu blogger indonesia menyatakan protes terhadap semua statement-statement tidak berdasar, tuduhan sembrono dan ocehan ngawur yang telah dikeluarkan oleh KRMT ROY SURYO (selanjutnya disebut 'yang bersangkutan') di berbagai media terhadap para blogger Indonesia. Maka dari itu kami yang menyatakan mendaftar disini sepakat untuk:
1. Menghimbau media pers indonesia untuk tidak menggunakan statemen yang bersangkutan sebagai acuan dalam berita, karena terlalu banyak statement yang dikeluarkan tanpa riset dan data yang valid.
2. Menghimbau yang bersangkutan untuk berhenti memberikan statement ngawur di media dan internet, dan lebih berhati-hati dalam melontarkan tuduhan-tuduhan.
3. Mendukung upaya pengajuan tuntutan pidana terhadap yang bersangkutan atas tuduhannya yang tidak berdasar pada blogger indonesia (dalam hal ini salah satunya Enda Nasution) seperti disebutkan dalam statementnya di Indocommit
4. Menuntut kepada pemerintah untuk melakukan upaya untuk menghentikan statement yang meresahkan berbagai pihak dan mempermalukan komunitas kepakaran IT indonesia tersebut.
Sincerely,
The Undersigned
--------------------------------------------------------------------------------
The Tolak Roy Suryo Petition to MPR RI was created by and written by Ardian Perdana Putra (delcardino@yahoo.com). This petition is hosted here at www.PetitionOnline.com as a public service. There is no endorsement of this petition, express or implied, by Artifice, Inc. or our sponsors. For technical support please use our simple Petition Help form.
Sunday, April 06, 2008
Lagi...Arogansi Pengendara Motor Besar
kasus ini dialami oleh rekan saya, bro Yudha YJOC#0288 dari Bekasi Chapter
Cikarang, Sabtu, 5 April 2008 Pukul 16.28
hari itu merupakan hari yang ga pernah gw lupain selama gw nyemplak my Street Warrior. Gini ceritanya...
Setelah ngejemput pacar gw tercinta dari kediamannya di wilayah cikarang pusat (daerah terminal cikarang), gw melaju menuju Jababeka untuk menikmati malem minggu (Sorry ga ikut kopdar, coz lg ga boleh pergi2 jauh). Keadaan padat merayap di jalan Cikarang. Sengaja waktu itu saya ga melewati jalur Kawasan Industri. Saya memilih jalur utama. Ditengah asiknya menikmati kemacetan, persis di belakang pantat kontainer bersama rombongan kendaraan bermotor yang sabar antri, tiba2 sebuah motor Harlry davidson keluaran 2005/2006 melaju dari arah kanan saya. dengan suara yang gahar dan raungan mesin V-Twins-nya dia menghalangi jalan kendaraan dari arah berlawanan. dengan cacian dan makian dari sang pengendara, mebuat risih para pengendara yang lain.
Saya berada persis di belakang kontainer tersebut merasa terganggu dengan ulah pengandara tersebut. Selang beberapa detik kemudian, sang "motor besar" itu memepet saya, dan menyerempet seblah kanan motor. mengenai boncenger saya. ketika itu juga dia marah2 dan memaksa saya untuk minggir. Kemudian dia menendang motor saya, tetapi mengenai kaki boncenger saya (oh my sweety, Im so sorry for that mother****er did!). kemudian saya meminggirkan motor saya. Dan begitu pula dia. kemudian dengan sumapah serapah dan makian yang dia lemparkan ke muka saya, dia menyalahkan saya atas kejadian itu. dan dia menempeleng kepala saya sebanyak 3x. (1 kena muka, 2 kena helem, tp gpp... tempelengan banci!). Kemudian saya dipisah oleh warga yang melihat. Boncenger saya sudah jongkok dengen bercucuran air mata karena kesakitan di kakinya.
Dengen sedikit nada mengancam, saya akan melaporkan ke polisi. tetapi dia malah balik mengancam saya agar saya meminta maaf kepada dia. karena dia mengancam akan membuat saya babak belur. karena dia mengaku sebagai warga sekitar cikarang. Salah seorang warga, menyuruh saya untuk meminta maaf. Dan akhirnya dengan terpaksa saya meminta maaf kepada orang tersebut. Karena melihat kondisi pacar saya yang sudah syok dan cidera di kaki kanannya.
Setelah dia berlalu dengan sumpah serapah dan makian, saya melanjutkan perjalanan ke rumah saya.
Saya sudah melaporkan ini kepada pihak yang berwajib (polsek cikarang pusat) pada hari itu juga pukul 23.00. tetepi tidak ada tanggapan yang berarti kecuali sebuah nomor telfon Samsat pusat Polda metro jaya.
Sekiranya Bro n Sis di YJOC dapat membantu saya dalam melacak keberadaan siapa pemilik kendaraan bermotor tersebut.
Ciri Motor Besar tersangka
- Harley Davidson cooper
- Warna hitam
- nopol : B 5775 MB
Ciri pengendara
- badan tinggi, lumayan tegap, tidak atletis
- Celana jeans, kaos oblong merah, helem cetok warna merah
- keturunan Tionghoa
*) berita baiknya, saya tidak mengalami cidera, dan motor tidak mengalami kerusakan. hanya kaki pacar saya yang terkilir (dah sembuh dengan dipijet... hehe)
================================================
- Apakah dengan mengendarai motor besar bisa seenaknya menyerobot dan mengambil hak pengguna jalan yang lainnya.
- Apakah memang mayoritas pengendara motor besar memiliki atitud yang sama seperti itu?
sekiranya sekian dari saya, agar informasi ini disebarkan ke milis, forum, dan sebagainya. agar sekiranya pengendara tersebut dapat segera saya tuntut. Terima kasih sebesar2-nya kepada keluarga besar YJOC yang memberikan bantuan untuk menyelesaikan masalah ini hingga selesai. Keep brotherhood n spirit...
regards
yudha_YJOC 288
cikarang
Cikarang, Sabtu, 5 April 2008 Pukul 16.28
hari itu merupakan hari yang ga pernah gw lupain selama gw nyemplak my Street Warrior. Gini ceritanya...
Setelah ngejemput pacar gw tercinta dari kediamannya di wilayah cikarang pusat (daerah terminal cikarang), gw melaju menuju Jababeka untuk menikmati malem minggu (Sorry ga ikut kopdar, coz lg ga boleh pergi2 jauh). Keadaan padat merayap di jalan Cikarang. Sengaja waktu itu saya ga melewati jalur Kawasan Industri. Saya memilih jalur utama. Ditengah asiknya menikmati kemacetan, persis di belakang pantat kontainer bersama rombongan kendaraan bermotor yang sabar antri, tiba2 sebuah motor Harlry davidson keluaran 2005/2006 melaju dari arah kanan saya. dengan suara yang gahar dan raungan mesin V-Twins-nya dia menghalangi jalan kendaraan dari arah berlawanan. dengan cacian dan makian dari sang pengendara, mebuat risih para pengendara yang lain.
Saya berada persis di belakang kontainer tersebut merasa terganggu dengan ulah pengandara tersebut. Selang beberapa detik kemudian, sang "motor besar" itu memepet saya, dan menyerempet seblah kanan motor. mengenai boncenger saya. ketika itu juga dia marah2 dan memaksa saya untuk minggir. Kemudian dia menendang motor saya, tetapi mengenai kaki boncenger saya (oh my sweety, Im so sorry for that mother****er did!). kemudian saya meminggirkan motor saya. Dan begitu pula dia. kemudian dengan sumapah serapah dan makian yang dia lemparkan ke muka saya, dia menyalahkan saya atas kejadian itu. dan dia menempeleng kepala saya sebanyak 3x. (1 kena muka, 2 kena helem, tp gpp... tempelengan banci!). Kemudian saya dipisah oleh warga yang melihat. Boncenger saya sudah jongkok dengen bercucuran air mata karena kesakitan di kakinya.
Dengen sedikit nada mengancam, saya akan melaporkan ke polisi. tetapi dia malah balik mengancam saya agar saya meminta maaf kepada dia. karena dia mengancam akan membuat saya babak belur. karena dia mengaku sebagai warga sekitar cikarang. Salah seorang warga, menyuruh saya untuk meminta maaf. Dan akhirnya dengan terpaksa saya meminta maaf kepada orang tersebut. Karena melihat kondisi pacar saya yang sudah syok dan cidera di kaki kanannya.
Setelah dia berlalu dengan sumpah serapah dan makian, saya melanjutkan perjalanan ke rumah saya.
Saya sudah melaporkan ini kepada pihak yang berwajib (polsek cikarang pusat) pada hari itu juga pukul 23.00. tetepi tidak ada tanggapan yang berarti kecuali sebuah nomor telfon Samsat pusat Polda metro jaya.
Sekiranya Bro n Sis di YJOC dapat membantu saya dalam melacak keberadaan siapa pemilik kendaraan bermotor tersebut.
Ciri Motor Besar tersangka
- Harley Davidson cooper
- Warna hitam
- nopol : B 5775 MB
Ciri pengendara
- badan tinggi, lumayan tegap, tidak atletis
- Celana jeans, kaos oblong merah, helem cetok warna merah
- keturunan Tionghoa
*) berita baiknya, saya tidak mengalami cidera, dan motor tidak mengalami kerusakan. hanya kaki pacar saya yang terkilir (dah sembuh dengan dipijet... hehe)
================================================
- Apakah dengan mengendarai motor besar bisa seenaknya menyerobot dan mengambil hak pengguna jalan yang lainnya.
- Apakah memang mayoritas pengendara motor besar memiliki atitud yang sama seperti itu?
sekiranya sekian dari saya, agar informasi ini disebarkan ke milis, forum, dan sebagainya. agar sekiranya pengendara tersebut dapat segera saya tuntut. Terima kasih sebesar2-nya kepada keluarga besar YJOC yang memberikan bantuan untuk menyelesaikan masalah ini hingga selesai. Keep brotherhood n spirit...
regards
yudha_YJOC 288
cikarang
Subscribe to:
Posts (Atom)



